THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES ?
Memaparkan catatan dengan label sahabat. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label sahabat. Papar semua catatan

05 Februari 2010

setiap pertemuan pasti ada perpisahan..


21 Disember 2009

mutiara kata..


Persahabatan itu indah jika tiada persengketaan

Persahabatan itu lebih indah jika saling berfahaman

Namun hambarlah persahabatan tanpa gelak tawa dan air mata..

07 Disember 2009

Dengarlah wahai sahabatku......


apabila kamu ingin berteman,

janganlah pandang pada kelebihannya

kerana mungkin dengan satu kekurangan kamu akan menjauhinya.....



andai ingin berteman,

janganlah pula dinilai kebaikannya

kerana mungkin dengan satu kelemahan kamu akan membencinya...



andai ingin berteman yang satu,

janganlah diuji akan ilmunya

kerana apabila dia buntu kamu akan menyisihnya....



andai ingin berteman,

terimalah seadanya kerana dia hanya manusia biasa....


Maka,berkawanlah kerana Allah.Moga ukhuwwah yang terbina sentiasa diberkati-Nya...Amin..

..::Teman::..



ada masa kita perlu menangis

agar kita mengerti bahawa hidup ini bukan hanya untuk ketawa


ada masa kita perlu ketawa

agar kita tahu bernilainya setitis air mata


ada masa kita perlukan seorang teman

agar kita tidak kesunyian


ada masa kita tidak akan pernah lupa

betapa bernilainya seorang teman..

21 November 2009

..::7 cara menangkis virus ukhuwwah::..

Dalam surat Al-Hujurat, Allah swt memaparkan 7 sikap bagi kita untuk membasmi virus-virus ukhuwah yang bisa menghancurkan kekuatan ukhuwah yang telah dibina.
1. Tabayyun yang bererti mencari penjelasan dalam setiap maklumat yang diterima dan mencari bukti kebenaran informasi yang diterima. Allah swt berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS 49:6)
2. 'Adamus Sukhriyyah, ertinya tidak memperolok-olokkan orang atau kelompok lain. Firman Allah swt: "Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan)." (QS 49:11). Mampukah kita untuk meninggalkan tradisi sukhriyyah dan perasaan ana khairun minhu (saya lebih baik daripadanya), yaitu perasaan 'sombong' seperti yang dimiliki iblis? Inilah persoalan yang perlu ditanya pada diri.
3. Tidak mencela orang lain. Ini ditegaskan dengan firman-Nya: 'Dan janganlah kamu mencela diri sendiri'. Mencela sesama muslim, oleh ayat ini dianggap mencela diri sendiri, sebab pada hakikatnya kaum muslimin dianggap satu kesatuan. Apalagi jika celaan itu berkait dengan kedudukan dan kebendaan di dunia. Allah sendiri menyuruh Rasul dan orang-orang yang mengikutinya untuk bersabar atas segala kekurangan orang-orang mukmin. (Lihat QS, 18:28)
4. Meninggalkan panggilan dengan sebutan-sebutan yang tidak baik terhadap sesama muslim. Ini berdasarkan firman Allah swt: "Dan janganlah kamu saling memanggil dengan sebutan-sebutan (yang buruk)." (QS 49:11) Tanabuz dalam bentuk yang paling parah adalah berupa pengkafiran terhadap orang yang beriman. Pada kenyataannya masih saja ada orang atau kelompok yang dengan begitu mudahnya menyebut kafir kepada orang yang tidak tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut.
5. Ijtinabu Katsirin minadzdzan di mana Allah swt berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa." (QS 49:12) Pada dasarnya seorang muslim harus berbaik sangka terhadap sesamanya, kecuali jika ada bukti yang jelas tentang kesalahan tersebut.
6. Tidak mencari-cari kesalahan dan aurat orang lain. Perbuatan ini amat dicela Islam. Allah swt amat suka bila kita berusaha menutup aib saudara kita sendiri. Firman Allah swt: "Dan janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan (dan aurat) orang lain." (QS 49:12)
7. Allah swt menegaskan: "Dan janganlah kamu sekalian menggunjing sebagian lain.Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?..." Ghibah sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah saw adalah menceritakan keburukan dan kejelekan orang lain. Ketika seseorang menceritakan kejelekan orang lain, maka ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, jika yang diceritakannya benar-benar terjadi maka itulah ghibah. Kedua, jika yang diceritakannya itu tidak terjadi bererti ia telah memfitnah orang lain. Begitu besarnya dosa ghibah, sampai Allah SWT menyamakan orang yang melakukannya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Wallaahu'alam